- REUTERS Carlos Barria
Ketika Kaki Kiri Messi Mencetak Revolusi: Sejarah, Filsafat, Seni dan Agama
Oleh: Cendhy Vicky V, Football Enthusiast
tvOnenews.com - Piala Dunia 2026 telah usai. Spanyol keluar sebagai juara. Argentina gagal mempertahankan mahkotanya. Lionel Messi menangis. Jutaan pendukungnya ikut larut dalam kesedihan.
Namun, air mata itu sesungguhnya bukan semata-mata karena kekalahan.
Kesedihan terbesar justru datang dari kesadaran bahwa turnamen tersebut hampir pasti menjadi panggung kompetitif terakhir Lionel Messi bersama tim nasional Argentina. Piala Dunia bukan sekadar kompetisi empat tahunan; ia adalah mahkamah tertinggi sepak bola. Ketika peluit panjang dibunyikan di akhir pertandingan itu, publik dunia seolah menyaksikan sebuah babak sejarah ikut ditutup.
Pemain dengan nama lengkap Lionel Andres Messi Cuccittini, memang masih mengenakan seragam Inter Miami di Major League Soccer. Namun, kompetisi di Amerika Serikat tidak lagi menghadirkan intensitas yang sama dengan kerasnya liga-liga elite Eropa ataupun turnamen antarnegara. Sejumlah laporan terbaru bahkan menyebut bahwa ia hanya akan menjalani beberapa pertandingan perpisahan bersama Albiceleste—julukan timnas Argentina, sebelum benar-benar mengakhiri pengabdiannya.
Sesungguhnya, tidak ada lagi yang perlu dibuktikan!
Piala Dunia 2022 telah diraih. Finalissima berhasil dimenangkan. Copa America telah berkali-kali diangkat. Hampir seluruh gelar individu maupun kolektif yang mungkin dimenangkan seorang pesepak bola telah berada di lemari trofinya. Seolah-olah Messi telah menamatkan sepak bola itu sendiri.
Barangkali karena itulah, tahun 2026 terasa seperti the last dance yang sesungguhnya. Sebuah perjamuan terakhir antara seorang maestro dengan panggung yang selama dua dekade menjadikannya pusat perhatian dunia.
Bahkan lebih mengharukan lagi, sepanjang seremoni penyerahan trofi di MetLife Stadium, New Jersey, salah satu nama yang paling sering menggema dari tribun bukanlah para juara baru, melainkan “Messi”.
Teriakan para pendukung itulah yang membuat penulis seperti tersambar petir.
Sebagai penggemar Barcelona sekaligus Lionel Messi, rasanya berdosa apabila momen tersebut dibiarkan berlalu tanpa refleksi. Esai ini lahir bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai ungkapan terima kasih kepada seorang pemain yang telah mengubah cara dunia menikmati, memahami, sekaligus menghayati sepak bola.