Malam Jahanam di Kebon Bawang
- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Pada akhirnya, seluruh barang berharga seperti jam tangan Richard Mille (Rp 11,7 miliar), banyak tas branded, patung Iron Man koleksi superhero senilai ratusan juta, surat tanah, ijazah, KK, hingga perabot rumah tangga; semuanya raib dan hancur. Massa merusak lima mobil mewah di garasi; dan meninggalkan coretan umpatan di tembok serta mengotori kolam renang indoor yang sempat viral menjadi pusat perhatian.
Sampai dengan Oktober 2025, khusus pada kasus perusakan brutal di rumah Sahroni, Polri telah menangkap 12 tersangka (termasuk penghasut live TikTok). Dengan kasus dilimpahkan ke Polda Metro Jaya; 32 barang dikembalikan sukarela tanpa hukum bagi pengembalian ikhlas.
Sahroni, sopir taksi yang menjadi "Crazy Rich Tanjung Priok" dengan kekayaan LHKPN Sahroni mencapai Rp328,91 miliar adalah salah satu pihak yang paling mendapatkan pelajaran tak terlupakan dalam keos Agustus 2025.
Jika rakyat marah karena menjadi korban ketimpangan sosial, atas semakin dalamnya jurang dengan para elit di saat ekonomi sulit, maka bolehkah Sahroni kemudian juga disebut sebagai korban efek berantai dari kondisi itu juga?
Masih ada tanda tanya yang mebayang-bayang soal provokator misterius yang membakar amarah barisan massa. Masih ada traumatis mendalam atas pertaruhan hidup dan mati, masih ada hoaks viral yang menyakitkan seperti dugaan dalam "flashdisk putih". Masih ada caci maki dan seluruh ‘penelanjangan’ yang memalukan di Istana Sultan Priok. Bagaimana pun, dia juga korban yang tak seharusnya diperlakukan demikian.
“Kami sedih, seharusnya ini tidak boleh terjadi. Penyerangan seperti ini dalam sejarah kita hanya terjadi di zaman PKI dan ‘98. Gerakan ini tetaplah janggal dan aneh. Tetapi Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi kami,” tutup Imamunddin menyayangkan apa yang menimpa Sahroni.
Kini, pada Senin (3/11/2025), Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) melangsungkan sidang etik perdana untuk sejumlah nama anggota dewan nonaktif terkait kerusuhan di sejumlah kawasan di Indonesia pada 25-31 Agustus 2025.
Ahmad Sahroni, Nafa Urbach, Eko Patrio, Uya Kuya, serta Adies Kadir nantinya juga akan dimintai kejelasan terkait rangkaian peristiwa yang terjadi sejak 15 Agustus hingga 3 September 2025. (rpi)
Load more