GULIR UNTUK LIHAT KONTEN
News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Kepala Desa Anngoli Berkomentar soal Biang Kerok Banjir di Tapteng dan Tapsel: Bukan PT TBS

Soal tudingan bahwa PT TBS menjadi biang kerok banjir dan longsor di Tapsel dan Tapteng. Sontak, hal ini pun mendapat reaksi dari akademisi dan peneliti IPB
Selasa, 13 Januari 2026 - 22:25 WIB
Kepala Desa Anngoli Berkomentar soal Biang Kerok Banjir di Tapteng dan Tapsel: Bukan PT TBS
Sumber :
  • istimewa

Sumut, tvOnenews.com - Mencuat soal tudingan bahwa PT TBS menjadi biang kerok banjir dan longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Tapanuli Tengah (Tapteng). Sontak, hal ini pun mendapat reaksi dari akademisi dan peneliti dari IPB hingga Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu serta para tokoh setempat.

Selain itu, beredar pula surat untuk Presiden Prabowo Subianto dengan perihal 'PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) bukan penyebab bencana banjir bandang dan longsor di Tapsel dan Tapteng.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bahkan surat itu ditandatangani dan bercap stempel dari Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu, Ketua BPD, Muhassyer Nasution, hingga tokoh masyarakat Timbul Napitupulu dan Najamuddin Napitupulu.

Dalam surat itu, Kepala Desa Anngoli Oloan Pasaribu mewakili rakyat setempat   menyatakan bahwa, pihaknya dan rakyat setempat sangat prihatin dengan pemberitaan media massa akan siaran pers resmi Bareskrim Polri, Kejagung dan Satgas PKH yang menyebutkan PT TBS merupakan salah satu korporasi penyebab banjir bandang dan longsor di Tapsel dan Tapteng.

"Kami dapat menjelaskan bahwa aktivitas PT TBS bukanlah penyebab bencana banjir bandang dan longsor, apalagi penyebab menghanyutkan ribuan kubik kayu di Aek Garoga dengan fakta bahwa yang mengalir di lahan PT TBS yaitu mata air, kemudian mengalir ke Aek Nahombar."

"Lalu sekitar 3 sampai 4 Km bermuara di Sungai Muara Sibuntuon dengan alur yang berkelok dan sempit, sehingga jika pun ada sisa kayu, bukan PT TBS sangat mustahil untuk hanyut hingga ke jembatan Aek Garoga," ucap Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu, Selasa (13/1/2026).

Lanjut ia menjelaskan, bahwa areal yang masuk ke dalam izin lokasi PT TBS bukan merupakan kawasan hutan, melainkan APL yang sudah digarap masyarakat sejak lama beruoa tanaman karet, durian, aren, petai dan sebagian ditanami sawit.

"Selain daripata itu, banyak lahan masyarakat Anggoli yang tidak bersedia lahannya digantirugi oleh PT TBS, karena mereka masih bergantung pada hasil ladangnya, dan titik longsor yang terjadi di sekitar desa kami merupakan lahan masyarakat bukan lahan bukan TBS," bebernya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya yang mewakili warga setempat sangat mengharapkan kebijaksanaan bapak Presiden Prabowo Presiden.

"Bapak Presiden Prabowo untuk menghentikan penyidikan dan proses hukum terhadap PT TBS, karena kehadiran PT TBS sangat bermanfaat untuk kesejahteraan warga desa dengan dibangunnya Kebun Palsma dan penyerapan tenaga kerja local," ucapnya. 

Sebelumnya diberitakan, Tim ahli dari IPB University menyimpulkan bahwa aktivitas PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) bukan merupakan faktor utama penyebab bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Garoga, Sumatera Utara, pada 25–26 November 2025 lalu.

Kesimpulan tersebut disampaikan dalam rangkaian kajian ilmiah yang juga akan dipaparkan dalam diskusi akademik terbuka yang digelar di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranang Siang, Jumat, 9 Januari 2026. Diskusi ini merupakan respons atas siaran pers Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas-PKH) serta maraknya pemberitaan yang menyebut PT TBS sebagai salah satu korporasi yang diduga menjadi penyebab bencana.

Diskusi akademik mengangkat tema “Benarkah PT TBS Merupakan Salah Satu Korporasi Penyebab Banjir Bandang dan Longsor di DAS Aek Garoga–Tapanuli?” sebagai upaya menghadirkan kajian ilmiah yang objektif, komprehensif, dan berbasis data.

Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Pusat Studi Reklamasi Tambang (Reklatam), Kampus IPB Baranang Siang, Kota Bogor, mulai pukul 09.00 hingga 11.30 WIB. Diskusi menghadirkan pakar lingkungan dan kehutanan, yakni Prof. Yanto Santosa, Basuki Sumawinata, serta Idung Risdiyanto.

Para narasumber memaparkan analisis ilmiah terkait faktor penyebab banjir bandang dan longsor, mencakup aspek pengelolaan lahan, kondisi geomorfologi, curah hujan ekstrem, hingga tata kelola kawasan hutan dalam konteks DAS Aek Garoga–Tapanuli.

Berdasarkan hasil kajian, status lahan kebun PT TBS dipastikan bukan kawasan hutan negara, melainkan Areal Penggunaan Lain (APL). Sebelum dijadikan perkebunan, lahan tersebut merupakan lahan garapan masyarakat yang ditanami karet, pinang, durian, dan tanaman pangan lainnya.

Analisis citra satelit menunjukkan bahwa sebelum izin usaha diperoleh, mayoritas wilayah tersebut merupakan lahan pertanian kering campuran. Hingga 2025, baru sekitar 20 persen lahan yang diganti rugi kepada masyarakat, dan dari luasan tersebut hanya 86,50 hektare yang telah ditanami kelapa sawit.

Tim ahli juga menegaskan bahwa sebagian besar kebun PT TBS tidak berada di wilayah DAS Garoga. Luas areal kebun yang masuk ke wilayah DAS tersebut diperkirakan kurang dari 0,5 persen dari total luas DAS yang mencapai 12.767 hektare.

Terkait aliran sungai, hanya terdapat dua anak sungai kecil yang berhulu di area kebun PT TBS, yakni Aek Nahombar dan Aek Hopong. Dari kajian hidrologi, kedua aliran ini dinilai tidak memungkinkan menghanyutkan kayu gelondongan saat banjir bandang karena dimensi sungai yang sempit dan berkelok.

Menurut para akademisi IPB, faktor utama longsor di DAS Garoga lebih disebabkan kondisi alam, seperti curah hujan ekstrem, solum tanah yang tipis, batuan induk yang kedap air, serta kemiringan lereng yang curam. Kondisi tersebut menyebabkan tanah mudah mencapai titik jenuh dan memicu pergerakan tanah secara masif.

Hasil wawancara dengan para kepala desa dan tokoh masyarakat sekitar kebun PT TBS turut menguatkan kesimpulan ini. Seluruh responden menyatakan bahwa tudingan terhadap PT TBS sebagai penyebab utama bencana merupakan kekeliruan dan berharap proses penyelidikan dilakukan secara objektif dan adil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melalui diskusi akademik ini, publik diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh dan berimbang. Panitia juga mengundang awak media cetak, elektronik, dan online untuk meliput kegiatan sebagai bentuk keterbukaan informasi publik.

Tim ahli IPB menegaskan bahwa penilaian penyebab bencana harus dilakukan secara menyeluruh dalam skala DAS, bukan parsial pada satu entitas usaha. Kajian lintas disiplin seperti hidrologi, geologi, dan klimatologi diperlukan sebelum penetapan tanggung jawab hukum. (aag)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Para Pengemudi Mobil Konvoi Zig-zag di Tol Becakayu Berujung Minta Maaf Usai Diberikan Teguran Polisi

Para Pengemudi Mobil Konvoi Zig-zag di Tol Becakayu Berujung Minta Maaf Usai Diberikan Teguran Polisi

Polisi berhasil menemui enam pengemudi mobil yang viral usai konvoi dengan melintas zig-zag di ruas Tol Becakayu, Kalimalang, Jakarta Timur.
Nama Trump Muncul Ribuan Kali di Epstein Files: DOJ Rilis Dokumen FBI yang Sempat “Hilang”

Nama Trump Muncul Ribuan Kali di Epstein Files: DOJ Rilis Dokumen FBI yang Sempat “Hilang”

Departemen Kehakiman AS merilis dokumen Epstein Files yang menyebut nama Donald Trump ribuan kali, termasuk memo FBI soal tuduhan lama yang belum terbukti.
Rapimnas XII Hikmahbudhi Rampung Digelar, Usung Persatuan Dan Keharmonisan

Rapimnas XII Hikmahbudhi Rampung Digelar, Usung Persatuan Dan Keharmonisan

Hikmahbudhi gelar Rapat Pimpinan Nasional (Rampinas) XII dengan mengusung tema “Bersatu dalam Dhamma, Sinergi untuk Bangsa: Menguatkan Persatuan Organisasi dan Keharmonisan Umat.”
Dua Pria Ditangkap Polisi di Tanah Abang, Keciduk Simpan Ganja 3 Kilogram dalam Kamar Hotel

Dua Pria Ditangkap Polisi di Tanah Abang, Keciduk Simpan Ganja 3 Kilogram dalam Kamar Hotel

Tim Unit 5 Subdit 3 Ditresnarkoba Polda Metro Jaya berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis ganja seberat 3 kilogram di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Timnas Indonesia Kena Imbas Perang Iran, Pemain Naturalisasi Terancam Batal Ikut FIFA Series 2026?

Timnas Indonesia Kena Imbas Perang Iran, Pemain Naturalisasi Terancam Batal Ikut FIFA Series 2026?

Konflik Iran vs Amerika Serikat berdampak pada persiapan Timnas Indonesia jelang FIFA Series Maret 2026. Pemain diaspora dari Eropa terancam batal ikut?
Jadwal Lengkap Semifinal All England 2026: Raymond/Joaquin Tantang Unggulan Pertama

Jadwal Lengkap Semifinal All England 2026: Raymond/Joaquin Tantang Unggulan Pertama

Raymond/Joaquin jadi satu-satunya wakil Indonesia tersisa di semifinal All England 2026

Trending

Dwi Sasetyaningtyas Ngotot Tak Bersalah, Alumni LPDP Itu Jawab Tegas: Negara Gak Ngasih ke Saya

Dwi Sasetyaningtyas Ngotot Tak Bersalah, Alumni LPDP Itu Jawab Tegas: Negara Gak Ngasih ke Saya

Nama penerima beasiswa LPDP, Dwi Sasetyaningtyas atau Tyas masih menjadi perbincangan publik.
2 Bintang Andalan Timnas Indonesia Dibidik Juventus Jelang FIFA Series 2026, Siapa Saja Sosoknya?

2 Bintang Andalan Timnas Indonesia Dibidik Juventus Jelang FIFA Series 2026, Siapa Saja Sosoknya?

Kabar baik jelang FIFA Series 2026, dua pemain Timnas Indonesia Jay Idzes dan Emil Audero dilaporkan masuk radar Juventus usai tampil impresif di Liga Italia.
Betapa Bahagianya Doktif setelah Richard Lee Ditahan Polda Metro Jaya: Segala Tipu Daya DRL Dapat Jawabannya

Betapa Bahagianya Doktif setelah Richard Lee Ditahan Polda Metro Jaya: Segala Tipu Daya DRL Dapat Jawabannya

dr Samira Farahnaz atau Dokter Detektif (Doktif) bahagia Polda Metro Jaya tahan dr Richard Lee atas kasus dugaan pelanggaran konsumen terkait produk kecantikan.
Viral, Pak Guru Rusly di Sabu NTT Cium dan Peluk Siswa Laki-laki di dalam Kelas, Begini Pengakuannya

Viral, Pak Guru Rusly di Sabu NTT Cium dan Peluk Siswa Laki-laki di dalam Kelas, Begini Pengakuannya

Viral di media sosial, seorang guru bernama Rusly Lingu Djara (32) yang mengajar di SMP Negeri 2 Sabu Timur mencium dan memeluk para siswa lelaki dalam kelas.
Fatal! Gara-Gara Berulah Ini, Dokter Richard Lee Langsung Dijebloskan ke Rutan Usai Diperiksa Polisi

Fatal! Gara-Gara Berulah Ini, Dokter Richard Lee Langsung Dijebloskan ke Rutan Usai Diperiksa Polisi

Polda Metro Jaya mengambil tindakan tegas dengan melakukan penahanan terhadap dokter sekaligus influencer kesehatan, Richard Lee (DRL), pada Jumat malam (6/3).
Alasan Biarkan Bigmo dan Resbob Jadi Tersangka, Azizah Salsha Kesal Sudah Difitnah: Ini Dampaknya Buruk

Alasan Biarkan Bigmo dan Resbob Jadi Tersangka, Azizah Salsha Kesal Sudah Difitnah: Ini Dampaknya Buruk

Mantan istri Pratama Arhan, Azizah Salsha mengungkap dampak dugaan fitnah dari YouTuber Adimas Firdaus (Resbob) dan Muhammad Jannah (Bigmo) sudah sangat fatal.
Media Belanda Sebut Juventus hingga Inter Milan Antre Ingin Jay Idzes, Nilai Transfer Bek Timnas Indonesia Tembus Setengah Triliun Rupiah

Media Belanda Sebut Juventus hingga Inter Milan Antre Ingin Jay Idzes, Nilai Transfer Bek Timnas Indonesia Tembus Setengah Triliun Rupiah

Media Belanda mengungkap Jay Idzes kini diincar Inter Milan, Juventus, dan AC Milan. Sassuolo disebut memasang harga transfer fantastis hingga Rp695 miliar.
Selengkapnya

Viral

ADVERTISEMENT