News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Cerita Keluarga Cari Bambang hingga ke Empat Rumah Sakit, hingga Dapat Kabar Duka: Mas yang Sabar!

Bambang sebelumnya diketahui berada di Rumah Sakit Pelni untuk menemani seorang tetangga yang sedang sakit, namun sudah kembali pulang ke rumah.
Minggu, 30 Agustus 2026 - 15:24 WIB
Wisnu (35) anak korban jiwa Bambang Setiawan (60)
Sumber :
  • Abdul Gani Siregar/tvOnenews

Jakarta, tvOnenews.com – Malam kerusuhan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, berubah menjadi malam panjang bagi keluarga Bambang Setiawan (60). 

Setelah mengetahui sang ayah tak kunjung pulang, Wisnu (35) bergerak dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk mencari keberadaannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bambang sebelumnya diketahui berada di Rumah Sakit Pelni untuk menemani seorang tetangga yang sedang sakit, namun sudah kembali pulang ke rumah.

Namun, ketika kericuhan kembali pecah di kawasan Pejompongan, malam itu Bambang hendak mematikan lampu toko cermin miliknya karena khawatir rusak akibat kericuhan. Akan tetapi, sejak itu keberadaan Bambang mendadak tidak diketahui.

Wisnu pertama kali mendapat kabar dari adiknya Yoga (29), bahwa sang ayah belum kembali ke rumah.

“Aku dapat telepon dari adikku dikabarin kalau, ‘Mas, Bapak belum pulang.’ Coba dilihat dulu, karena kan pantauan aku tuh Bapak ada di Pelni, Rumah Sakit Pelni menemani temannya yang sakit,” cerita Wisnu, kepada tvOnenews.com, di kawasan Penjompongan, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).

Wisnu kemudian meminta keluarga memastikan keberadaan Bambang di Rumah Sakit Pelni. Namun, pencarian awal itu tidak membuahkan hasil.

“Setelah itu, aku minta konfirmasikan coba tanya dulu siapa yang ada di Rumah Sakit Pelni, sudah ditanya enggak ada. Coba telepon anaknya (tetangga) siapa tahu mungkin anaknya tahu, ternyata anaknya enggak tahu,” kata dia.

Keluarga lalu mencoba melacak orang-orang yang terakhir bertemu dengan Bambang. Beberapa orang memang sempat melihatnya, tetapi tak ada yang mengetahui ke mana Bambang pergi setelah itu.

“Coba tanya di rumah terakhir ketemu sama Bapak tuh kapan? Sudah ditanya-tanya, ya beliau ini sempat ketemu sama beberapa orang, tapi jawabannya itu enggak ada yang setelah itu sudah enggak kelihatan lagi,” ujar Wisnu.

Situasi semakin mencekam ketika kericuhan kembali terjadi. Wisnu bahkan mendapat informasi dari teman-temannya bahwa ada seseorang yang ditangkap dan dipukuli hingga diduga meninggal dunia.

“Terus setelah itu ada kejadian ricuh lagi dan teman-temanku tuh sempat ada yang bilang pas pada saat kejadian, ada yang bilang, ‘ada yang ditangkap tuh, ada yang dipukulin kayaknya meninggal deh gitu’, dan enggak ngeh kalau misalkan itu Bapak, Bapak saya gitu,” tutur dia sembari menahan air mata.

Namun, saat itu Wisnu belum mengetahui bahwa sosok yang dimaksud kemungkinan adalah ayahnya.

Ia kemudian kembali ke rumah dan bersama adiknya berusaha mencari Bambang secara langsung. Wisnu menyusuri kawasan sekitar, mendatangi sejumlah toko milik teman-teman Bambang dan menanyakan apakah ada yang melihat sang ayah.

“Setelah itu aku sampai di rumah aku ngobrol sama adikku, sudah ketemu belum? Belum. Coba cari, aku sempat nyari juga ke belakang, jadi aku taruh motor, aku parkirin aku sempat nyari ke outlet teman-teman ada melihat enggak Bapak terakhir ke mana? ‘Oh Bapak tadi sempat ketemu sama ini di sini.’ Terus aku cari sampai ke belakang, cari ternyata enggak ada,” ucap dia.

Sekitar setengah jam mencari tanpa hasil, Wisnu mulai berpikir bahwa keluarganya harus mencari Bambang ke rumah sakit. Namun, kondisi keamanan membuatnya ragu untuk melapor kepada polisi.

“Sudah sekitar setengah jam lah aku mencari gitu kan, terus aku mikir kita kalau kehilangan orang itu harus lapor ke mana? Aku tanyalah sama seseorang, tapi enggak dapat jawaban karena kan aku mikirnya pada saat itu enggak mungkin lapor ke kepolisian karena kan lagi chaos kan, dan kepolisian kayaknya juga menutup nih, close pastinya kan,” lugasnya.

Wisnu akhirnya mengambil keputusan untuk mencari sendiri ke rumah sakit.

“Ya sudah, aku ambil keputusan buat ambil inisiatif sendiri aku cari di rumah sakit. Aku cari di rumah sakit terdekat itu ada di Mintohardjo,” kata Wisnu.

Pencarian di Rumah Sakit Mintohardjo tidak langsung memberikan jawaban. Wisnu kemudian menuju Rumah Sakit Pelni, lalu melanjutkan perjalanan ke Rumah Sakit Tarakan.

“Aku ke sana enggak dapat info apa pun, enggak dapat jawaban, aku jalan ke Rumah Sakit Pelni itu sudah ada sekitar jam 03.00-an pagi. Karena aku sampai sini kalau enggak salah tuh setengah 02.00 atau jam 02.00 gitu sampai di rumah. Dari Pelni aku jalan ke Tarakan enggak ada info, aku mau ke Cipto,” jelas dia.

Di tengah perjalanan menuju Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, tepatnya di kawasan Jalan Cideng, telepon dari adiknya akhirnya membawa titik terang—sekaligus kabar yang paling ditakuti keluarga.

Adiknya ternyata kembali mendatangi Rumah Sakit Mintohardjo setelah keluar rumah untuk membeli makanan. Ia kemudian bertanya kepada sopir ambulans mengenai korban-korban yang dibawa dari lokasi demonstrasi.

“Dan ternyata adikku tuh dapat informasi langsung, dia iseng sebenarnya, niatnya keluar mau beli makan. Dia jalanlah ke arah Benhill, iseng itu dia bilang berhenti di depan rumah sakit itu Mintohardjo, iseng dia nanya sama sopir ambulans, ‘Mas di sini ada berapa kali ambulans datang antar korban dari demo?’ Oh katanya ‘sering, Mas, mondar-mandir mondar-mandir’,” cerita Wisnu menirukan obrolan pahit itu.

Dari percakapan itu, sang adik kemudian memberanikan diri bertanya kepada petugas rumah sakit mengenai Bambang.

“Enggak tahu kenapa tuh dia kayak punya feeling kayak ‘gua harus nanya nih ke dalam’, gitu, nanyalah sama petugas-petugas yang jaga pada saat itu,” tutur dia.

“Terus dia nanya, ‘Pak ada enggak atas nama Bambang dari Pejompongan?’ karena kan aku juga nanya seperti itu. ‘Oh tadi ada yang nyariin juga, Mas, dua orang.’ ‘Oh iya itu abang saya’, adikku langsung kayak gitu karena dia tahu kalau aku mencari Bapakku juga kan ke sana,” lanjut Wisnu.

Yoga kemudian menunjukkan foto Bambang kepada petugas yang berjaga pada saat itu.

“Sesudah itu dia nunjukin foto dari almarhum nih foto beliau, ‘Ini Pak orangnya kira-kira Bapak tahu enggak?’ Oh iya sebentar, dan ternyata adikku dapat jawaban kalau misalkan Bapakku tuh sudah dilarikan ke Rumah Sakit Polri, dibawa ke Rumah Sakit Polri,” ujarnya.

Kabar tersebut diterima Wisnu ketika masih berada di perjalanan.

“Aku di masih dalam perjalanan mau ke RS Cipto di Jalan Cideng itu dapat telepon adikku kalau bilang ‘Mas, langsung ke Rumah Sakit Polri saja Bapak sudah ketemu gitu, tapi Mas tuh yang sabar ya, yang kuat’,” jelas Wisnu, air matanya tampak berlinang di pelupuk.

Kalimat itu membuat Wisnu mulai menyadari kemungkinan terburuk kondisi ayahnya. Pikirannya kalut saat mendengar kabar tersebut.

“Dari situ aku sudah mikir ‘Ah Bapakku sudah ya mungkin sudah enggak ada atau gimana gitu’,” ungkap dia.

Wisnu kemudian langsung menuju Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Ia tiba menjelang azan subuh.

“Rumah Sakit Polri itu aku sampai pas sebelum azan subuh lah ya, aku tanya di sana ada enggak jenazah atas nama Bambang?” tanya dia kepada petugas yang berjaga.

Namun, ia masih harus menunggu proses administrasi dan prosedur identifikasi sebelum dapat melihat ayahnya.

“Ya aku harus disuruh menunggu, Bapak penyidik atau ya aku harus meminta izin, ya aku enggak tahulah prosedurnya kan setiap tempat ada prosedurnya dan kita harus menghormati itu,” jelas dia.

Hingga akhirnya, sekitar pukul 07.00-08.00 WIB, Wisnu diperbolehkan melihat jenazah ayahnya.

“Aku baru bisa ketemu sama almarhum jenazahnya aku baru bisa lihat ya dengan kondisi yang memprihatinkan kan sih di jam 07.00, jam 08.00 pagi,” tutupnya.

Bambang diduga menjadi korban pengeroyokan di kawasan Pejompongan pada Kamis (27/8) malam. Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menyatakan masih mengumpulkan fakta-fakta hukum terkait kematian Bambang.

“Kami sedang melakukan penyelidikan dan mengumpulkan fakta-fakta hukum yang ada di lapangan yang kami peroleh,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanudin.

Polisi sebelumnya menerima laporan mengenai adanya korban pengeroyokan di lokasi. Namun, evakuasi tidak dapat langsung dilakukan karena kondisi di lapangan belum kondusif.

“Sehingga pada saat lokasi itu sudah diamankan, Bidokes Polda Metro Jaya mengevakuasi seseorang laki-laki yang dalam kondisi pingsan,” kata Budi.

Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Mintohardjo dan dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya selanjutnya dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi dan visum. (agr/muu)

 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Terduga Pelaku Pembacokan Eks Kopassus di Cakung Masih Berstatus Saksi

Terduga Pelaku Pembacokan Eks Kopassus di Cakung Masih Berstatus Saksi

Kapolsek Cakung Kompol Andre Tri Putra mengatakan status terduga pelaku pembacokan eks anggota Kopassus di Cakung, Jakarta Timur, masih berstatus sebagai saksi. Keterangannya belum bisa diambil karena masih dalam perawatan di rumah sakit.
Bukan 60 Hektare, Dedi Mulyadi Sebut Luas Area Terdampak Karhutla Gunung Ciremai 30 Hektare dan Targetkan Padam dalam Dua Hari

Bukan 60 Hektare, Dedi Mulyadi Sebut Luas Area Terdampak Karhutla Gunung Ciremai 30 Hektare dan Targetkan Padam dalam Dua Hari

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyebut luas area terdampak karhutla di Gunung Ciremai tercatat seluas 30 hektare. KDM menargetkan pemadaman total karhutla di Gunung Ciremai rampung dalam rentang waktu dua hari dengan mengerahkan helikopter water bombing dan 500 personel pembersih kanal alami.
Memanaskan Mesin Mobil Sebelum Berangkat Bisa Bikin Irit BBM? Ini 5 Fakta yang Perlu Diketahui

Memanaskan Mesin Mobil Sebelum Berangkat Bisa Bikin Irit BBM? Ini 5 Fakta yang Perlu Diketahui

Memanaskan mesin mobil sebelum berangkat masih menjadi kebiasaan banyak pengendara, terutama saat kendaraan baru pertama kali digunakan pada pagi hari.
Soal Adanya Dugaan Kesengajaan Karhutla Gunung Ciremai, Ini Kata Bupati Kuningan

Soal Adanya Dugaan Kesengajaan Karhutla Gunung Ciremai, Ini Kata Bupati Kuningan

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar buka suara soal adanya dugaan kesengajaan karhutla yang terjadi di Gunung Ciremai, Jawa Barat. Dian menyebut penyebab karhutla masih diselidiki. Sejalan dengan itu, pemerintah daerah memprioritaskan pemadaman agar api tidak meluas.
Harga Emas Antam Hari Ini 24 Oktober 2026 Stagnan di Angka Rp2.540.000 per Gram

Harga Emas Antam Hari Ini 24 Oktober 2026 Stagnan di Angka Rp2.540.000 per Gram

Harga emas Antam hari ini 24 Oktober 2026 terpantau stagnan di angka Rp2.540.000 per gram. Begitu juga dengan buyback atau harga beli kembali yang stagnan di angka Rp2.335.00 per gram.
Yoshimi Ogawa Jelaskan Prosedur Wasit saat Suporter Ricuh di Stadion, Ternyata Tak Bisa Asal Hentikan Pertandingan ‎

Yoshimi Ogawa Jelaskan Prosedur Wasit saat Suporter Ricuh di Stadion, Ternyata Tak Bisa Asal Hentikan Pertandingan ‎

Yoshimi Ogawa menjelaskan bahwa penghentian pertandingan akibat gangguan keamanan memiliki mekanisme yang perlu dipahami oleh seluruh perangkat pertandingan.

Trending

Sikat Kejahatan Karhutla, Kapolri Jerat 243 Tersangka dan 13 Korporasi Pembakar Hutan

Sikat Kejahatan Karhutla, Kapolri Jerat 243 Tersangka dan 13 Korporasi Pembakar Hutan

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Pol Suyudi Ario Seto, menyampaikan laporan tegas terkait penegakan hukum kasus kebakaran hutan -
Tutup Kran Pundi Medali Atletik Asian Para Games 2026 dengan Emas, Partin Muslihin Cetak Rekor  

Tutup Kran Pundi Medali Atletik Asian Para Games 2026 dengan Emas, Partin Muslihin Cetak Rekor  

Tim para atletik Indonesia mendapatkan torehan impresif berupa 22 medali dari tiga emas, delapan perak, dan 11 perunggu. Hasil ini bahkan membawa Tim Indonesia ke peringkat ke delapan klasemen Asian Para Games 2026 per Jumat (23/10/2026). 
Hasil Timnas Indonesia Abroad: Kevin Diks Absen Bela Borussia Monchengladbach Hingga Dean James Bersinar di Liga Belanda

Hasil Timnas Indonesia Abroad: Kevin Diks Absen Bela Borussia Monchengladbach Hingga Dean James Bersinar di Liga Belanda

Seharusnya terdapat dua pemain Timnas Indonesia yang membela klub mereka masing-masing dalam laga lanjutan Liga Belanda dan Liga Jerman. 
Van Dijk OTW Garuda Calling? Bek Kasta Teratas Eropa Ini Akui Ingin Bela Timnas Indonesia: Semoga Bisa Terwujud

Van Dijk OTW Garuda Calling? Bek Kasta Teratas Eropa Ini Akui Ingin Bela Timnas Indonesia: Semoga Bisa Terwujud

Timnas Indonesia kembali berpeluang menambah pemain keturunan yang berkarier di Eropa. Kali ini, seorang bek yang tampil di kasta tertinggi ingin bela Garuda.
AFC Resmi Geser Piala Asia Ke Tahun Genap, Edisi 2027 Bisa Jadi Turnamen Terakhir Bagi 3 Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia 

AFC Resmi Geser Piala Asia Ke Tahun Genap, Edisi 2027 Bisa Jadi Turnamen Terakhir Bagi 3 Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia 

AFC akan menggeser Piala Asia sebagai ajang empat tahunan ini ke 2032 dari yang seharusnya digelar 2031. 
Tembus Semifinal French Open 2026, Ubed Tantang Wakil Prancis 

Tembus Semifinal French Open 2026, Ubed Tantang Wakil Prancis 

Ubed tampil meyakinkan dengan menyingkirkan wakil Taiwan Chi Yu Jen dalam dua gim langsung 21-15, 21-13 di Grand Paris Arena, Paris, Jumat (24/10/2026).
Sosok Koki Narkoba 1,2 Ton di Aceh Ternyata Ahli Kimia

Sosok Koki Narkoba 1,2 Ton di Aceh Ternyata Ahli Kimia

Polri berhasil membongkar pengoperasian laboratorium rahasia pembuat narkoba sabu-sabu berskala raksasa di kawasan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh. Dimana
Selengkapnya

Viral