Perang Kembali Pecah, Damai Makin Goyah
Jakarta, tvOnnews.com - Eskalasi konflik antara Amerika serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir.
Pengamat menilai memanasnya situasi dipicu oleh perbedaan pandangan terkait pengaturan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Analis Indo-Pasifik Fauzia Gustarina Cempaka Timur menjelaskan bahwa ketegangan terbaru berawal dari sengketa mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menurutnya, Amerika Serikat menginginkan kondisi pelayaran kembali seperti sebelum konflik, sedangkan Iran tetap mengklaim memiliki kewenangan mengatur lalu lintas kapal di kawasan tersebut.
Cempaka mengatakan ketidaksepahaman itu memicu serangkaian serangan yang terus meningkat intensitasnya. Selain aksi militer, Amerika Serikat juga disebut kembali memberlakukan pembatasan terhadap sektor petrokimia dan ekspor minyak Iran sehingga memperburuk hubungan kedua negara.
Analis Timur Tengah Hasibullah Satrawi menilai konflik yang terjadi saat ini merupakan fase baru yang berbeda dari ketegangan sebelumnya.
Menurutnya, kesepahaman yang pernah dicapai kedua pihak hanya bersifat sementara dan gagal dijalankan secara konsisten.
Ia menjelaskan bahwa baik Iran maupun Amerika Serikat memiliki tafsir berbeda terhadap sejumlah poin kesepakatan, terutama mengenai kewenangan pengawasan pelayaran di Selat Hormuz. Perbedaan tersebut kemudian berkembang menjadi konflik terbuka.
Hasibullah juga menilai babak baru konflik berpotensi melibatkan lebih banyak aktor kawasan. Selain Amerika Serikat dan Iran, ketegangan diperkirakan dapat memengaruhi situasi di Yaman, negara-negara Teluk, hingga melibatkan dukungan politik dari negara-negara anggota NATO.
Menurutnya, jika konflik terus meluas, jalur pelayaran strategis seperti Selat Bab el-Mandeb juga berpotensi terdampak sehingga mengganggu distribusi energi global.
Sementara itu, Cempaka memperingatkan bahwa eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga terhadap perekonomian dunia. Ia mengutip proyeksi sejumlah lembaga internasional yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global dapat kembali melambat apabila konflik berkepanjangan dan mengganggu distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Menurutnya, ancaman terhadap pasokan energi dunia menjadi salah satu risiko terbesar dari meningkatnya ketegangan tersebut.
Jika jalur pelayaran kembali terganggu, dampaknya diperkirakan akan dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia, melalui kenaikan harga energi dan perlambatan ekonomi global.
Para pengamat menilai penyelesaian konflik memerlukan upaya diplomasi yang lebih kuat dengan melibatkan pihak-pihak yang dinilai netral.
Tanpa adanya kesepakatan baru yang mampu dijalankan kedua belah pihak, eskalasi konflik dinilai masih berpotensi meningkat dalam beberapa pekan mendatang.