Indef Dorong Percepatan Belanja Negara untuk Genjot Kredit Bank Jelang Lebaran 2026
- Antara
Jakarta, tvOnenews.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mendorong pemerintah mempercepat realisasi belanja negara guna mengungkit penyaluran kredit perbankan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026. Momentum musiman ini dinilai penting untuk menggerakkan konsumsi rumah tangga dan aktivitas usaha, meski proyeksi pertumbuhan kredit tahun ini diperkirakan tidak setinggi periode sebelumnya.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, mengatakan permintaan kredit perbankan biasanya meningkat menjelang bulan puasa dan Lebaran, seiring naiknya kebutuhan konsumsi serta pembiayaan usaha perdagangan. Namun, pada 2026, lonjakan kredit diprediksi lebih moderat.
“Penyaluran kredit perbankan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026 masih diperkirakan tumbuh, tetapi tidak sekuat tahun-tahun sebelumnya,” ujar Rizal saat dihubungi di Jakarta, Senin (26/1).
Menurutnya, peningkatan kredit pada periode tersebut berpotensi tertahan oleh sikap kehati-hatian perbankan dalam mengelola risiko, serta kecenderungan pelaku usaha dan masyarakat yang lebih berhitung dalam menambah kewajiban pembiayaan. Kondisi ini dipengaruhi oleh belum sepenuhnya pulihnya daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global.
Rizal juga menyoroti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 yang tercatat mengalami penurunan tipis menjadi 123,5 dari 124 pada bulan sebelumnya. Meski masih berada di level optimistis, penurunan ini mencerminkan adanya kehati-hatian masyarakat dalam melakukan konsumsi dan investasi.
Dalam konteks tersebut, kebijakan pemerintah dinilai memegang peran strategis untuk memperkuat permintaan kredit pada kuartal I 2026. Salah satu langkah utama yang perlu dilakukan adalah mempercepat realisasi belanja negara, khususnya belanja yang berdampak langsung pada perputaran ekonomi dan daya beli masyarakat.
“Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat program bantuan yang bersifat produktif serta meningkatkan dukungan fiskal bagi UMKM dan sektor usaha padat karya agar dapat memperbaiki likuiditas dan prospek pendapatan masyarakat,” jelas Rizal.
Ia menambahkan, koordinasi dengan otoritas moneter dan kebijakan makroprudensial juga perlu diarahkan untuk menciptakan ruang pembiayaan yang lebih kondusif bagi sektor produktif. Dengan demikian, pertumbuhan kredit tidak hanya bersifat musiman atau temporer, tetapi mampu berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan sepanjang 2025 tumbuh sebesar 9,69 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), masih berada dalam kisaran proyeksi BI di level 8 hingga 11 persen. Capaian ini menunjukkan kinerja penyaluran kredit masih relatif solid di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit sepanjang 2025 tercatat sebagai berikut:
-
Kredit investasi: 21,06 persen (yoy)
-
Kredit modal kerja: 4,52 persen (yoy)
-
Kredit konsumsi: 6,58 persen (yoy)
BI juga mendorong pelaku usaha untuk melakukan ekspansi dengan memanfaatkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan. Pada Desember 2025, nilai undisbursed loan tercatat mencapai Rp2,44 kuadriliun, setara 22,12 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Menurut BI, optimalisasi fasilitas pembiayaan tersebut dapat menjadi salah satu sumber pendanaan untuk mendorong ekspansi usaha, terutama di sektor produktif yang berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan kombinasi percepatan belanja negara, penguatan dukungan fiskal, serta kebijakan moneter dan makroprudensial yang akomodatif, Indef optimistis penyaluran kredit perbankan dapat tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan, sekaligus menopang pemulihan ekonomi menjelang momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026. (ant/nsp)
Load more