Selat Hormuz Ditutup, Pramono Yakin Warga Jakarta Tak akan Panic Buying soal BBM
- tvonenews.com/Syifa Aulia
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) sampai Lebaran 2026 aman terkendali.
Hal ini menanggapi pertanyaan wartawan terkait cadangan BBM di Jakarta di tengah penutupan Selat Hormuz akibat perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Pramono menjelaskan stok BBM di Jakarta dikelola secara bersama-sama oleh pemerintah pusat.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga sebelumnya telah memastikan bahwa stok BBM secara nasional tetap tersedia untuk 20 hari ke depan.
“Ya kan semua stok di Jakarta ini pasti dikelola bersama-sama dengan Pemerintah Pusat, bukan kemudian dikelola oleh Pemda sendiri, tetapi dikelola bersama-sama,” ujar Pramono di Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
Di sisi lain, dia juga meyakini bahwa masyarakat Jakarta tidak akan bersikap panic buying terhadap BBM.
“Karena saya meyakini di Jakarta tidak akan ada panic buying untuk urusan BBM,” ungkapnya.
Sebelumnya, Bahlil memastikan cadangan energi dalam negeri berada pada level aman.
“Masih cukup. Cadangan BBM nasional kita masih aman untuk 20 hari ke depan,” ungkap Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (3/3/2026).
Terkait kekhawatiran lonjakan subsidi energi akibat gejolak harga minyak dunia, dia menegaskan belum ada dampak terhadap postur anggaran saat ini.
“Sampai hari ini tidak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah,” jelasnya.
Untuk merumuskan strategi mitigasi jangka pendek dan menengah, Kementerian ESDM akan segera berkoordinasi dengan Dewan Energi Nasional (DEN).
“Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN). Setelah itu, baru saya akan menyampaikan hasil analisa dan kajian komprehensif dari DEN,” tambah Bahlil.
Di tengah ketidakpastian global, pemerintah juga mulai mempercepat diversifikasi sumber pasokan energi.
Salah satu langkah konkret adalah merealisasikan impor dari Amerika Serikat, khususnya untuk kebutuhan elpiji.
“Soal impor dari AS kan sudah saya katakan bahwa setelah kesepakatan ditandatangani baru kita melakukan tindak lanjutnya secara detail. Kita beri rentang waktu sekitar 60 hari. Dan sampai hari ini, sebagian pasokan sudah kita ambil dari AS, terutama untuk kebutuhan elpiji (LPG),” tandas Bahlil. (saa)
Load more