Rupiah Terpukul Lagi ke Level Terburuk Baru, Kini Nyaris Sentuh Rp17.400 per Dolar AS
- Antara
Konflik Rusia-Ukraina hingga Timur Tengah Masih Jadi Pemicu
Mengutip Antara, tekanan terhadap rupiah dinilai masih berasal dari faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah. Kondisi ini turut memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada pergerakan mata uang global.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi oleh eskalasi konflik antara Ukraina dan Rusia, khususnya serangan terhadap fasilitas energi.
“Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia dan kita lihat bahwa kilang-kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone dari Ukraina,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta.
Berdasarkan laporan Xinhua, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global.
Berkurangnya pasokan minyak dari Rusia ke pasar internasional dinilai akan memperbesar tekanan kenaikan harga energi dunia.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan sistem pertahanan udaranya berhasil menjatuhkan 740 drone Ukraina di garis depan dalam kurun 24 jam hingga Minggu (3/5).
“Jadi, Ukraina rupanya lebih banyak lagi mengirim drone-drone secara jarak jauh yang mengakibatkan kondisi di wilayah Rusia, terutama adalah kilang-kilang minyak ini mengalami kebakaran yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga minyak mengalami kenaikan,” ungkap Ibrahim.
Selain konflik di Eropa Timur, sentimen geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut memengaruhi pasar. Pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai rencana pengawalan kapal asing keluar dari Selat Hormuz dinilai menambah ketegangan.
Langkah tersebut disebut sebagai upaya kemanusiaan bagi negara-negara yang terdampak konflik. Namun, di sisi lain, Iran disebut siap menghadapi konflik jangka panjang, sehingga memperbesar risiko eskalasi di kawasan tersebut.
Ibrahim menambahkan, lonjakan harga minyak mentah berpotensi meningkatkan inflasi global. Kondisi ini dapat mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
“Di sisi lain pun juga kenaikan harga minyak mentah ini berdampak terhadap inflasi yang tinggi, sehingga bank sentral dalam pertemuan di bulan Mei ini kemungkinan besar kalau seandainya harga minyak masih tetap di atas 100, kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga. Ini yang membuat dolar kembali mengalami penguatan,” ujar dia. (rpi)
Load more