Apa Benar Sound Horeg Bisa Merusak Pendengaran dan Menurunkan Fungsi Otak? Ini Penjelasan Ilmiahnya
- Dibuat oleh Gemini AI
“Literatur menunjukkan gangguan pendengaran kronis bisa berpotensi penurunan fungsi otak mengapa? Karena ketika pendengaran terganggu otak harus bekerja lebih keras memahami percakapan,” jelasnya.
Kondisi tersebut dapat dibayangkan seperti seseorang yang mendengarkan penjelasan guru, tetapi hanya mampu menangkap sebagian kecil kata yang diucapkan. Otak harus bekerja lebih keras untuk memahami informasi yang tidak terdengar dengan jelas.
Meski demikian, Prof. Zulys menegaskan bahwa kemungkinan hubungan antara gangguan pendengaran dan fungsi otak tidak bisa langsung dijadikan kesimpulan bahwa sound horeg menyebabkan seseorang menjadi kurang cerdas.
“Bayangkan guru menerangkan pelajaran tetapi setiap tiga kata cuma terdengar satu. Tetapi belum tentu sound horeg berarti bikin bodoh, belum ada penelitian primer di Indonesia yang secara spesifik membuktikan sound horeg menyebabkan penurunan fungsi otak,” tegas Prof. Zulys.
Dengan demikian, perlu dibedakan antara risiko gangguan pendengaran akibat kebisingan dan klaim bahwa sound horeg secara langsung menyebabkan penurunan fungsi otak. Hubungan sebab-akibat yang spesifik tersebut masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Cara Mengurangi Bahaya Suara Keras dari Sound Horeg
Prof. Zulys menilai upaya mengurangi risiko sound horeg tidak harus dilakukan dengan menghentikan kreativitas masyarakat. Menurutnya, penggunaan pengeras suara perlu memperhatikan aspek keselamatan melalui pengaturan teknis dan regulasi berbasis sains.
“Lalu apa solusinya? Bukan mematikan kreativitas masyarakat, jangan juga menghina pelakunya sebagai SDM rendah yang diperlukan adalah sound engineering dan regulasi berbasis sains, ukur tingkat desibel, batasi durasi, atur jarak speaker dari masyarakat, sediakan area istirahat pendengaran dan lindungi terutama anak-anak serta kelompok rentan,” paparnya.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko paparan suara keras, antara lain:
Membatasi durasi paparan. Hindari berada terlalu lama di dekat sumber suara dengan volume tinggi.
Menjaga jarak dari speaker. Tingkat suara yang diterima umumnya dapat berkurang ketika jarak dari sumber suara bertambah.
Menggunakan pelindung telinga. Sumbat telinga atau pelindung pendengaran dapat membantu mengurangi paparan kebisingan.
Memberikan waktu istirahat bagi telinga. Menjauh sejenak dari lingkungan bising membantu mengurangi paparan suara secara terus-menerus.
Load more