Media Sosial Bisa Memperbesar Polarisasi? Ini Ancaman Perang Kognitif bagi Demokrasi Indonesia
- ist
tvOnenews.com - Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat tidak hanya menghadapi persoalan memilah berita benar dan salah. Algoritma media sosial turut menentukan konten yang muncul di layar, sementara narasi emosional dapat menyebar lebih cepat daripada penjelasan yang didukung fakta.
Akibatnya, dua orang yang menyaksikan peristiwa sama bisa membentuk kesimpulan berbeda karena menerima informasi dari lingkungan digital yang tidak serupa.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi demokrasi ketika perbedaan persepsi berkembang menjadi kecurigaan, polarisasi, hingga permusuhan antarkelompok. Informasi yang berulang kali muncul dapat terasa semakin meyakinkan, meskipun belum tentu memiliki dasar yang kuat.
Di sisi lain, keresahan masyarakat terhadap persoalan ekonomi dan kebijakan publik tetap merupakan kenyataan yang perlu didengar. Karena itu, membedakan kritik yang sah dari manipulasi informasi menjadi penting agar upaya menjaga ruang digital tidak justru membatasi kebebasan berpendapat.
Persoalan inilah yang dibahas dalam bedah buku "Perang Kognitif: Eskalasi Digital, Demonstrasi, dan Demokrasi Indonesia 2025" karya Brigjen TNI Dr. Agus Bhakti, S.I.P., M.I.P., M.Han., di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung.
Diskusi tersebut mengulas bagaimana informasi, persepsi, dan mobilisasi masyarakat saling berkaitan, termasuk melalui studi kasus aksi massa sepanjang 2025. Pembahasan ini sekaligus mengangkat pertanyaan mendasar: bagaimana Indonesia menghadapi manipulasi informasi tanpa menjadikan kritik terhadap pemerintah sebagai ancaman?
Perang Kognitif, Ketika Algoritma Memengaruhi Cara Publik Berpikir
Dalam pembahasan bukunya, Agus Bhakti menjelaskan perang kognitif sebagai bentuk persaingan yang menyasar proses berpikir manusia, mulai dari menerima informasi, memahami realitas, hingga menentukan sikap dan tindakan.
Konsep ini berbeda dari perang siber yang berfokus pada sistem, jaringan, dan infrastruktur digital. Dalam perang kognitif, perhatian diarahkan pada persepsi manusia yang dapat memengaruhi keputusan individu maupun kelompok.
“Perang kognitif tidak hanya menyangkut informasi apa yang diterima seseorang, tetapi juga bagaimana informasi itu memengaruhi cara berpikir, menilai situasi, dan menentukan tindakan.”
Salah satu mekanisme yang dibahas adalah filter bubble, yakni kondisi ketika sistem personalisasi digital cenderung menyajikan informasi sesuai minat atau perilaku pengguna. Sementara itu, echo chamber atau ruang gema terbentuk ketika seseorang lebih banyak berinteraksi dengan pandangan yang menguatkan keyakinannya sendiri.
Load more