Daging Kurban Tak Harus Langsung Dimasak, Ini Tips Mengolahnya Jadi Rendang yang Tahan Lama dan Bernilai Gizi Tinggi
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Hari Raya Iduladha identik dengan melimpahnya daging kurban di berbagai daerah. Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih bingung mengolah daging dalam jumlah besar agar tidak cepat rusak dan tetap bisa dinikmati dalam waktu lebih lama.
Salah satu solusi yang banyak dipilih adalah mengolah daging kurban menjadi rendang. Bukan tanpa alasan, rendang dikenal sebagai salah satu makanan dengan daya simpan cukup panjang.
Proses memasak yang lama membuat kadar air dalam masakan berkurang sehingga lebih awet dibandingkan olahan daging lainnya. Bahkan, dalam kondisi penyimpanan yang tepat, rendang dapat bertahan selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Pilihan mengolah daging kurban menjadi rendang juga semakin relevan di tengah kondisi ekonomi yang menuntut masyarakat memanfaatkan bahan pangan secara lebih efisien.
Dengan teknik pengolahan yang tepat, daging kurban tidak hanya menjadi santapan keluarga saat Iduladha, tetapi juga dapat menjadi cadangan makanan bergizi untuk beberapa waktu ke depan.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan daging sapi merupakan sumber protein hewani yang kaya zat besi, seng (zinc), vitamin B12, serta asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.
Sementara itu, rendang bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak di dunia karena perpaduan cita rasa rempah-rempah yang kompleks sekaligus kandungan gizinya yang tinggi.
Di berbagai daerah di Indonesia, pengolahan daging kurban menjadi rendang juga telah menjadi tradisi. Selain untuk konsumsi keluarga, rendang kerap dibagikan kepada masyarakat karena dinilai lebih praktis dan memiliki masa simpan lebih lama dibandingkan daging mentah.
Tips Mengolah Daging Kurban Menjadi Rendang yang Empuk dan Tahan Lama
Agar menghasilkan rendang berkualitas, pemilihan daging menjadi langkah pertama yang penting. Bagian paha, sengkel, atau sandung lamur sering direkomendasikan karena memiliki serat yang cukup kuat sehingga tidak mudah hancur meski dimasak dalam waktu lama.
Setelah daging dipotong sesuai ukuran, hindari mencucinya terlalu lama karena dapat mengurangi cita rasa alami dan kandungan nutrisinya. Daging cukup dibersihkan dari kotoran yang menempel sebelum dimasak.
Penggunaan santan segar dan rempah-rempah lengkap juga menjadi kunci utama. Bumbu seperti cabai, bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, serai, daun jeruk, dan daun kunyit tidak hanya memberikan aroma khas, tetapi juga memiliki sifat antimikroba alami yang membantu memperpanjang daya simpan makanan.
Proses memasak rendang sebaiknya dilakukan dengan api kecil dalam waktu yang cukup lama. Teknik ini memungkinkan santan meresap sempurna ke dalam serat daging sekaligus mengurangi kadar air sehingga rendang menjadi lebih awet.
Sebagai contoh, masyarakat Minangkabau telah menerapkan metode memasak rendang selama berabad-abad.
Proses memasak dapat berlangsung hingga empat jam atau lebih sampai santan mengering dan menghasilkan warna cokelat kehitaman yang menjadi ciri khas rendang autentik.
Mengolah daging kurban menjadi rendang juga dinilai lebih efektif dalam kegiatan sosial. Dibandingkan daging mentah yang harus segera dimasak, rendang lebih mudah didistribusikan dan dapat dikonsumsi kapan saja oleh penerimanya.
Konsep inilah yang diterapkan dalam kegiatan "Kurban Jadi Rendang" yang digelar di Kampung Cahaya, Kelurahan Menteng Atas, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (30/5/2026). Kampung ini juga dikenal sebagai Kampung Gasong, merupakan kawasan yang mayoritas warganya bekerja sebagai pemulung.
Dalam kegiatan tersebut, ratusan paket rendang dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS), Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan pengolahan daging kurban menjadi rendang dipilih karena memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Di tengah kondisi harga bahan pokok yang terus mengalami kenaikan dan berdampak pada masyarakat kecil, kepedulian sosial daging kurban yang telah diolah menjadi rendang diberikan kepada warga.
Rendang dipilih karena lebih tahan lama dan praktis untuk dikonsumsi. Daging kurban dapat lebih tahan lama, praktis dikonsumsi, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi penerima.
Selain menjadi salah satu kuliner khas Indonesia yang mendunia, rendang juga memiliki nilai sosial yang kuat. Kemampuannya bertahan lebih lama membuat makanan ini sering digunakan dalam berbagai program bantuan pangan, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses logistik.
Pada kegiatan tersebut, rendang dibagikan kepada hampir 1.000 warga. Sejumlah tokoh masyarakat setempat turut hadir, termasuk Ketua RW 09 H. Purnama Juliansyah, Ketua RT 14 Kartoyo, serta beberapa relawan yang terlibat dalam proses pengolahan makanan.
Dengan semangat Kurban Jadi Rendang, Ribuan Senyum Tersajikan, kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terus berbagi dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.
Dari sisi kuliner maupun sosial, mengolah daging kurban menjadi rendang terbukti memberikan banyak manfaat. Selain menjaga kualitas daging agar lebih tahan lama, cara ini juga membantu memperluas distribusi pangan bergizi kepada masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mempertahankan salah satu warisan kuliner terbaik Indonesia. (udn)
Load more