KPAI Temukan 5 Daycare di Indonesia Bermasalah dalam 3 Tahun Terakhir, Terparah di Yogyakarta
- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Yogyakarta, tvOnenews.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan setidaknya ada lima kasus daycare bermasalah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Kasus terparah terjadi di wilayah Yogyakarta.
Anggota KPAI, Diyah Puspitarini menyampaikan bahwa kelima daycare bermasalah tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Depok (Jawa Barat), Pekanbaru, Tebet (Jakarta Timur), Jakarta Selatan dan Yogyakarta.
"Dari kasus yang ditangani KPAI, jumlah korban di Kota Yogyakarta yang paling banyak," tuturnya saat rilis kasus di Mapolresta Yogyakarta, Senin (27/4/2026).
Berdasarkan data dari Polresta Yogyakarta, total ada 103 anak yang dititipkan di daycare Little Aresha, wilayah Sorosutan, Umbulharjo. Dari jumlah tersebut, 53 anak di antaranya jadi korban kekerasan baik fisik maupun verbal
Diyah menuturkan bahwa kasus daycare bermasalah yang sebelumnya hingga saat ini ditangani, rata-rata perizinannya belum ada. KPAI pun menemukan adanya indikasi kekerasan terjadi secara sistematis dan terstruktur.
"Karena dilakukan oleh lebih dari 3-4 orang atau bahkan 10 orang," ucapnya.
Atas peristiwa ini, KPAI berharap sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak pasal 59 a bahwa proses hukum harus cepat. Kemudian, anak-anak korban juga harus mendapatkan pendampingan psikososial dengan cepat.
"Total 103 anak yang dititipkan, semuanya juga harus mendapatkan pendampingan psikososial," ujar Diyah.
Nantinya, pendampingan psikologis juga menyasar para orang tua korban. Sebab, mereka juga mengalami gangguan psikologis lantaran stres atau syok ditambah mereka ada yang bertempat tinggal di sekitar lokasi.
Selain pendampingan psikologis, anak korban juga harus mendapatkan bantuan sosial dan perlindungan hukum.
Diyah menyebut, insiden kekerasan anak di daycare Little Aresha Yogyakarta bisa menjadi pelajaran bagi orang tua di seluruh Indonesia agar lebih mawas diri dalam memilih tempat penitipan anak.
Ke depan, ia mengharapkan seluruh daycare di Indonesia memiliki izin operasional sebagai bentuk perlindungan untuk anak Indonesia.
Di lokasi yang sama, Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menaruh perhatian serius terhadap kondisi tumbuh kembang korban dugaan kekerasan anak di daycare Little Aresha.
Pemkot Yogyakarta disebut mengerahkan ahli lintas disiplin mulai dari ahli psikologi anak, tumbuh kembang anak, gizi hingga parenting.
"Itu yang kita siapkan," ujar Hasto.
Senada dengan KPAI, pendampingan juga menyasar para orang tua korban. Karena mereka mengalami gangguan kesehatan mental, seperti stres dan syok atas peristiwa yang menimpa anaknya.
"Para orang tua juga menginginkan ada pendampingan secara psikologi. Mereka bersedih, sebagai orang tua bisa membayangkan seperti apa, anak yang tidak bisa protes dan anak yang belum punya bargaining position dapat perlakuan seperti itu," ucap Hasto.
Dalam pelaksanaannya, Pemkot Yogyakarta mengerahkan belasan psikolog dari berbagai puskesmas di wilayahnya untuk memberikan pendampingan bagi mereka.
"Kita punya psikolog klinis yang ada di puskesmas, jumlahnya ada 18 yang kita siapkan untuk mereka (orang tua korban kekerasan)," ungkapnya. (scp/buz)
Load more